Kalau kamu suka film superhero, rasanya hampir mustahil nggak pernah mendengar dua nama ini. Marvel dan DC.
Keduanya punya karakter yang sudah dikenal selama puluhan tahun. Superman, Batman, Wonder Woman, Spider-Man, Iron Man, Captain America, dan masih banyak lagi.
Tapi kalau kita bicara soal film superhero modern, ada satu hal yang cukup terasa. Marvel seolah berhasil membawa penonton tumbuh bersama para karakternya.
Sementara DC masih mencari cara untuk membangun pengalaman yang sama.
Pertanyaannya, kenapa? Apakah karena karakter Marvel lebih bagus?
Atau sebenarnya ada alasan lain di balik persaingan DC vs Marvel yang selama ini kita lihat?
Kalau kita mundur sedikit dan melihat bagaimana keduanya membangun universe mereka, ternyata ada beberapa perbedaan yang cukup menarik.
Marvel Membangun Fondasi, DC Terlalu Terburu-buru

Salah satu hal yang menurutku paling terasa dalam perbandingan DC vs Marvel adalah bagaimana keduanya membangun dunia mereka.
Marvel nggak langsung mengumpulkan semua superhero dalam satu film.
Mereka memulai semuanya lewat Iron Man pada 2008. Setelah itu, kita diperkenalkan dengan karakter lain seperti Hulk, Thor, dan Captain America.
Baru setelah beberapa karakter mulai dikenal, semuanya dipertemukan dalam The Avengers pada 2012.
Marvel bahkan menyebut film-film awal tersebut sebagai bagian dari fondasi yang kemudian berkembang menjadi Marvel Cinematic Universe.
Kalau dipikir-pikir, cara ini memang masuk akal.
Kita diberi waktu untuk mengenal Tony Stark. Kita diberi waktu untuk memahami siapa Steve Rogers. Kita tahu bagaimana Thor datang ke Bumi.
Kita juga melihat konflik masing-masing karakter sebelum mereka akhirnya harus menghadapi masalah yang jauh lebih besar bersama-sama.
Jadi ketika The Avengers akhirnya mempertemukan mereka, rasanya bukan seperti melihat sekumpulan superhero yang kebetulan berada di satu film.
Kita sudah punya hubungan emosional dengan mereka. Dan ketika sesuatu terjadi kepada mereka, kita ikut merasa kehilangan.
Nah, di sinilah DC menurutku mengambil langkah yang jauh lebih cepat.
Batman v Superman: Dawn of Justice memang menjadi film besar yang mempertemukan dua karakter paling ikonik milik DC. Tapi film tersebut juga membawa beban yang cukup besar untuk sebuah cerita yang masih berada di tahap awal pembangunan universe.
Ada Batman. Ada Superman. Ada Wonder Woman. Ada konflik besar. Ada kematian Superman.
Dan di saat yang sama, film tersebut juga mulai membuka jalan menuju Justice League.
Masalahnya bukan karena Batman bertemu Superman.
Masalahnya adalah penonton belum benar-benar diberi waktu untuk tumbuh bersama dunia tersebut.
Ibaratnya kayak kamu baru saja berkenalan dengan seseorang, lalu beberapa hari kemudian kamu diminta ikut menghadiri pernikahannya.
Kamu mungkin tahu siapa orangnya. Tapi kamu belum punya alasan emosional untuk benar-benar peduli.
Kurang lebih seperti itulah yang menurutku terjadi pada pembangunan awal DC Extended Universe.
Marvel memberi penonton waktu untuk mengenal. DC terlihat ingin segera sampai ke titik besar.
Dan dalam urusan membangun franchise sebesar ini, waktu ternyata punya peran yang cukup penting.
Ketika DC Terlalu Sering Mengubah Arah

Hal lain yang membuat perjalanan DC terasa lebih rumit adalah perubahan arah yang terjadi berkali-kali.
Marvel punya Kevin Feige sebagai salah satu figur sentral yang mengawasi Marvel Studios dan perkembangan MCU dalam jangka panjang. Dari luar, struktur ini membuat arah besarnya terlihat lebih konsisten, meskipun tentu saja Marvel juga mengalami banyak perubahan dan masalah di sepanjang perjalanannya.
DC punya perjalanan yang berbeda.
Ada perubahan kepemimpinan. Ada perubahan rencana. Ada film yang akhirnya harus mengalami perubahan besar dalam proses produksinya.
Dan penonton akhirnya melihat universe DC yang terasa seperti sedang mencari bentuk.
Contoh yang paling sering dibicarakan tentu saja Justice League. Film yang dirilis pada 2017 itu mengalami perubahan besar selama proses produksinya, termasuk pergantian sutradara dari Zack Snyder ke Joss Whedon.
Setelah itu muncul versi Zack Snyder’s Justice League pada 2021.
Buat penonton, situasi seperti ini bisa cukup membingungkan.
Kita sedang mengikuti cerita yang mana? Versi yang mana yang sebenarnya ingin dibangun? Apakah universe ini akan dilanjutkan? Atau sebentar lagi semuanya akan di-reset lagi?
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana.
Tapi untuk sebuah franchise yang ingin membuat penonton mengikuti cerita selama bertahun-tahun, konsistensi sangat penting.
Kita sebagai penonton perlu merasa bahwa waktu yang kita investasikan untuk mengikuti satu cerita akan membawa kita ke sesuatu.
Bukan setiap beberapa tahun kembali ke titik awal.
Baca Juga: Teori Film Obsession: Penjelasan Ending Film Obsession dan Misteri One Wish Willow
DC Sempat Bingung Menentukan Identitasnya

Menurutku, ini bagian yang paling menarik kalau kita membahas DC vs Marvel.
Karena DC sebenarnya punya identitas yang sangat kuat. Masalahnya, identitas itu kadang justru menjadi jebakan.
Kesuksesan The Dark Knight Trilogy karya Christopher Nolan membuat pendekatan superhero yang gelap, serius, dan realistis terasa sangat berhasil untuk DC.
Batman memang cocok dengan pendekatan tersebut. Gotham cocok. Cerita tentang kriminalitas, trauma, moralitas, dan manusia yang berusaha melawan kejahatan juga cocok.
Tapi masalahnya muncul ketika formula tersebut dianggap bisa diterapkan kepada semua karakter. Superman misalnya.
Ia bukan sekadar manusia super yang memiliki kekuatan luar biasa.
Superman secara konsep juga membawa gagasan tentang harapan, kebaikan, dan sosok yang memilih melakukan hal benar meskipun memiliki kekuatan yang hampir tidak terbatas.
Jadi ketika karakter seperti Superman ditempatkan dalam dunia yang terlalu muram, tantangannya bukan sekadar membuat filmnya terlihat gelap.
Kita juga harus memastikan bahwa identitas karakternya tidak ikut hilang.
Begitu pula ketika DC mencoba bergerak ke arah yang lebih ringan dan humoris.
Masalahnya, menjadi lucu tidak otomatis membuat film terasa seperti Marvel.
Marvel sendiri sebenarnya tidak memiliki satu formula tunggal.
Kevin Feige pernah menjelaskan bahwa salah satu hal yang membuat MCU menarik justru keberagaman karakter dan filmnya. Guardians of the Galaxy, misalnya, memiliki tone yang sangat berbeda dari cerita superhero lainnya, tetapi tetap bisa hidup di dalam universe yang sama.
Jadi mungkin persoalannya bukan apakah DC harus menjadi lebih gelap atau lebih lucu. Mungkin DC hanya perlu menemukan cara untuk membuat setiap karakter memiliki identitasnya sendiri.
Batman boleh gelap. Superman boleh penuh harapan. Wonder Woman bisa punya pendekatan berbeda. Dan karakter lain juga tidak harus mengikuti satu cetakan yang sama.
Menariknya, arah baru DCU di bawah James Gunn justru terlihat mencoba membuka ruang tersebut.
Dalam penjelasan mengenai DC Universe baru, Gunn mengatakan bahwa setiap proyek tetap boleh memiliki ekspresi, tone, dan gaya masing-masing selama masih bekerja dalam satu universe.
Ketika Superhero Terlalu Sulit untuk Kita Rasakan

Kalau bicara soal DC vs Marvel, ada satu perbedaan yang cukup terasa: karakter Marvel sering dibuat lebih dekat dengan kehidupan manusia biasa.
Peter Parker masih harus memikirkan sekolah, uang, dan hubungan. Tony Stark memang miliarder, tapi dia punya masalah pribadi yang terus mengikuti hidupnya. Bahkan ketika mereka punya kekuatan super, masalah yang dihadapi tetap terasa manusiawi.
Sementara itu, banyak karakter utama DC berada di level yang jauh lebih tinggi.
Superman hampir seperti dewa. Wonder Woman adalah seorang Amazon. Aquaman adalah raja Atlantis. Bahkan Flash punya kemampuan yang sulit dibayangkan manusia biasa.
Masalahnya bukan karena karakter-karakter tersebut terlalu kuat.
Masalahnya adalah karakter yang sangat kuat membutuhkan penulisan yang lebih kuat pula agar penonton tetap bisa merasa dekat dengan mereka.
Itulah kenapa DC vs Marvel sebenarnya bukan sekadar soal siapa yang punya superhero lebih bagus. Marvel cukup sering membuat kita berpikir, “Kalau aku berada di posisi dia, mungkin aku juga akan merasakan hal yang sama.”
DC kadang membuat kita berpikir, “Kalau aku punya kekuatan sebesar itu, apa yang akan kulakukan?”
Keduanya menarik. Tapi yang pertama biasanya lebih mudah membuat penonton terikat secara emosional.
DC Sebenarnya Tidak Kehabisan Potensi
Kalau sampai di sini kamu berpikir DC sudah kalah jauh dari Marvel, menurutku jawabannya tidak sesederhana itu.
DC justru punya salah satu modal terbesar dalam dunia superhero: karakter yang sudah sangat dikenal.
Batman, Superman, Wonder Woman, Joker, Flash, Aquaman, Green Lantern, hingga banyak karakter lain punya basis penggemar yang besar.
Bahkan ketika tidak berada dalam satu universe, DC masih bisa menghasilkan film yang kuat.
Joker dan The Batman menjadi contoh bahwa DC tidak selalu membutuhkan formula shared universe untuk menarik perhatian penonton.
Artinya, masalah DC bukan kekurangan karakter.
Masalahnya lebih kepada bagaimana karakter-karakter tersebut digunakan.
Dan mungkin ini yang sering terlupakan ketika membandingkan DC vs Marvel.
Marvel berhasil membuat banyak karakter terasa seperti bagian dari satu perjalanan panjang.
DC punya karakter-karakter yang tidak kalah besar. Tinggal bagaimana semuanya diberikan cerita yang tepat.
James Gunn dan Harapan Baru DCU
Setelah beberapa kali perubahan arah, DC akhirnya memilih untuk membangun kembali semestanya.
Pada 2023, James Gunn dan Peter Safran ditunjuk sebagai pemimpin baru DC Studios dan mulai menyusun DC Universe yang baru. Salah satu tujuan yang mereka sampaikan adalah membuat cerita yang lebih terhubung sekaligus mengurangi kebingungan penonton.
Ini menjadi kesempatan baru bagi DC.
Bukan berarti James Gunn otomatis akan membuat DC mengalahkan Marvel.
Tantangannya jauh lebih besar dari itu.
Marvel sudah membangun hubungan dengan penontonnya selama bertahun-tahun. Karakter-karakternya sudah melewati banyak film, konflik, kehilangan, sampai perpisahan.
DC harus membangun hubungan tersebut dari awal lagi.
Tapi setidaknya sekarang arahnya terlihat lebih jelas.
DC tidak harus menjadi “Marvel versi DC”.
Justru DC punya kesempatan untuk menemukan formula yang cocok dengan identitasnya sendiri.
Dan itu mungkin jauh lebih penting daripada sekadar mengejar siapa yang lebih sukses.
Penutup: Masalah DC Bukan Kekurangan Superhero
Jadi, kenapa DC belum bisa menyaingi Marvel?
Jawabannya bukan karena DC punya superhero yang lebih buruk.
DC punya karakter besar, cerita yang menarik, bahkan beberapa film yang berhasil meninggalkan kesan kuat.
Masalah utamanya adalah konsistensi.
Marvel membangun dunianya secara bertahap, menjaga arah yang relatif jelas, lalu membuat penonton punya alasan untuk terus mengikuti perjalanan para karakternya.
DC sempat mencoba mengejar hasil yang sama tanpa memiliki waktu yang cukup untuk membangun fondasi tersebut.
Itulah kenapa perdebatan DC vs Marvel sebenarnya tidak harus berakhir dengan pertanyaan, “Mana yang lebih bagus?”
Pertanyaan yang lebih menarik justru:
“Siapa yang lebih berhasil membuat kita peduli?”
Karena pada akhirnya, kita tidak terus menonton superhero hanya karena mereka punya kekuatan luar biasa.
Kita kembali karena peduli dengan ceritanya.
Dan kalau DC berhasil membuat penontonnya kembali merasa peduli pada karakter-karakternya, bukan tidak mungkin persaingan DC vs Marvel akan terasa berbeda beberapa tahun ke depan.