Share

Mengenal Design Thinking, Apa Itu?

Picture of Farhan Anggara
Farhan Anggara
SEO Content Writer and Digital Marketer.
apa itu design thinking?

Pernah denger istilah design thinking? Apa itu Design Thinking?

Sekilas mungkin kita mengira bahwa design thinking cuma bisa dipakai oleh seorang desainer ketika merancang sesuatu. Padahal, ini metode umum yang bisa dipakai oleh siapapun. Mulai dari individu, bisnis menengah, hingga perusahaan besar.

Kok bisa?

Design Thinking itu adalah proses menyelesaikan sebuah masalah yang dimana kita hanya fokus pada pengguna (user). Contohnya ketika menemukan seseorang bermasalah dalam melakukan sesuatu, kita bisa memecahkannya lewat metode design thinking.

Dengan design thinking, solusi yang dibuat berdasarkan pemahaman yang matang dengan masalah pengguna. Hasilnya, produk lebih berpotensi sukses dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna.

Masih belum paham? Simak pembahasan berikut ini.

Apa itu Design Thinking?

Lebih jelasnya, design thinking adalah metode pendekatan untuk memecahkan masalah yang fokus atau pusatnya pada pengguna. Dalam artian, kebutuhan pengguna menjadi poin utama untuk menciptakan solusi.

Bukan asal solusi saja, design thinking memungkinkan kita untuk mengintegrasikan kebutuhan manusia dengan pemanfaatan teknologi demi mencapai kesuksesan bisnis.

Lalu, siapa saja yang butuh design thinking?

Awalnya memang design thinking itu diperuntukan bagi desainer yang ternyata pada akhirnya cocok digunakan untuk:

  1. Perusahaan atau organisasi yang ingin menciptakan produk sukses di masyarakat dengan resiko gagal yang minim.
  2. Pemimpin tim yang ingin mencapai kolaborasi dalam pengembangan produk.
  3. Pekerja kreatif yang ingin mengembangkan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna untuk menciptakan produk bermanfaat.

Dengan design thinking, semua hal dapat terbantu dengan baik dalam:

  • Memahami kebutuhan pengguna dengan lebih baik
  • Mengurangi risiko kegagalan produk
  • Menyempurnakan produk/solusi dari waktu ke waktu
  • Mempercepat proses pembelajaran pengembangan produk/solusi.

Elemen-Elemen dalam Design Thinking

Yang namanya design thinking, tercatat empat elemen penting yaitu:

1. Fokus pada Pengguna (User-Centered)

Fokus pada masalah pengguna adalah syarat utama dalam melakukan design thinking. Artinya, apapun sosulisnya harus berpusat pada kebutuhan pengguna.

Khususnya untuk menyelesaikan masalah yang mereka alami.

2. Iteratif (Iterative)

Iterative adalah kebutuhan akan proses yang berulang.

Design thinking menuntun kita dalam melakukan proses yang berulang dalam berinovasi hingga mendapat solusi yang optimal.

3. Kreativitas Tinggi (Highly Creative)

Dalam design thinking, kita tidak memiliki batas dalam mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan solusi paling baik.

Tapi perlu diingat, setiap ide kreatif harus mengimplementasikan elemen-elemen dalam design thinking.

4. Langsung (Hands On)

Tidak cuma teoti atau sketsa, design thinking mengharuskan kita melakukan pengujian produk secara langsung.

Jadi, konsepnya adalah produk langsung diluncurkan ke calon pengguna dan melihatnya secara langsung keefektivitasnya.

Manfaat Design Thinking

Adapun ini adalah beberapa manfaat design thinking yang sayang jika dilewatkan:

  • Memudahkan perusahaan memahami kebutuhan calon pelanggan
  • Meningkatkan efisiensi proses desain
  • Membantu menciptakan inovasi baru yang berkelanjutan
  • Mengurangi risiko kegagalan produk
  • Menghemat anggaran perusahaan
  • Meningkatkan pendapatan

Faktanya sekitar 71% perusahaan setuju dengan design thingking yang meningkatkan budaya kerja, dan 69% mengatakan ini membuat proses invoasi menjadi efisien.

Jadi dapat disumpulkan bahwa manfaat design tinking cukup meringankan beban perusahaan. Terutama ketika melakukan pengembangan produk.

Baca Juga: Cara Menjadi Desainer Grafis: Tanggung Jawab, Skill, Karir

5 Tahapan dalam Proses Design Thinking

Apa itu Design Thinking
Sumber: https://www.interaction-design.org/

Secara garis besarnya, ada 5 tahapan dalam melakukan design thinking yaitu:

1. Empathize

Fokus: Memahami kebutuhan calon konsumen.

Langkah awal, lakukan pendekatan empati atau melihat masalah dari sudut pandang target pelanggan. Goalnya, untuk mendapatkan pemahaman tentang apa yang mereka butuhkan.

Jadi, ini bukan cuma asumsi belaka.

Cara melakukan empati yaitu dengan melakukan sebuah riset. Sebaiknya melakukan riset dengan konteks kebutuhan bisnis, yaitu:

  • Riset pasar: kegiatan mengumpulkan dan menganalisis data yang berkaitan dengan target pelanggan
  • Riset keyword: menentukan keyword yang cocok digunakan di blog atau website. Keyword juga bisa dipakai untuk memperoleh informasi apa yang banyak dicari target pelanggan
  • Riset produk: proses mendapatkan informasi tentang suatu produk bisnis, baik dari sisi harga, kualitas hingga persaingannya.

Supaya riset berjalan mudah, manfaaatkan berbagai tools sesuai dengan kebutuhan. Contohnya, Google Tends untuk riset tren, Ubersuggest untuk riset keyword, dan berbagai tools lainnya.

2. Define

Fokus: Menggali masalah hingga kebutuhan calon konsumen.

Setelah mendapatkan hasil riset, identifikasi dan analisa masalah serta kebutuhan target pelanggan.

Saat menganalisa, selalu ingatlah prinsip design thinking: user-centered (fokus pada user atau manusia).

Salah satu alternatif untuk menggali masalah dengan tepat adalah dengan membuat buyer persona. Buyer persona adalah karakter fiktif yang mempresentasikan target pelanggan bisnis.

Sekiranya, inilah data yang dibutuhkan untuk membuat buyer persona:

  1. Data pribadi
  2. Tingkah laku
  3. Kebiasaan saat berbelanja

Melalui buyer persona, kita lebih mudah dalam memutuskan strategi bisnis yang efektif. Karena, masalah setiap kelompok target pelanggan terpetakan dengan jelas sehingga kita bisa membuat solusi tepat.

3. Ideate

Fokus: Mengumpulkan ide-ide solusi.

Proses design thinking selanjutnya, ideate. Pada tahap inilah kreativitas harus bekerja. Sehingga ketika melakukan brainstorming ide, banyak inovasi yang keluar.

Lalu, bagaimana cara melakukan brainstorming ide yang cepat dan efektif?

Metode yang dapat digunakan bernama design sprint. Design Sprint adalah sebuah proses menciptakan produk dengan waktu cepat yaitu sekitar lima hari. Contoh eksekusinya seperti ini:

  1. Senin: mencari tahu masalah yang terjadi ketika akan membuat sebuah produk
  2. Selasa: memikirkan solusi dari masalah tersebut lalu memikirkan produk yang terbaik
  3. Rabu: memilih solusi dari berbagai pilihan yang telah didiskusikan dalam tim
  4. Kamis: menciptakan produk sesuai dengan solusi terbaik
  5. Jumat: menguji produk yang sudah diciptakan ke pelanggan

Dari sekian banyak alternatif solusi, kita harus memilih. Dalam menentukan solusi, silakan pertimbangkan tiga perspektif ini:

  • Layak secara teknis: produk menjalankan fungsinya dengan baik
  • Layak secara ekonomi: perusahaan mampu mengeksekusi ide produk ke lapangan
  • Diinginkan oleh pengguna: produk memenuhi kebutuhan pengguna

4. Prototype/Mockup

Fokus: membuat model solusi.

Setelah punya sketsa atau rancangan produk, kini waktunya membuat prototype ataupun mockup-nya. Nantinya, prototype ini akan dipresentasikan ke tim developer.

Pertanyaannya, kenapa butuh prototype/mockup?

Prototype memiliki fungsi yaitu untuk memperjelas ide produk sehingga setiap pihak yang berkolaborasi lebih memahami konsep produk. Dengan demikian, eksekusi produk nantinya lebih lancar.

Selanjutnya muncul pertanyaan, apa itu prototype dan mockup? Kita akan membahas keduanya satu per satu.

Prototype adalah ‘sample’ atau produk percobaan awal yang dibuat untuk menguji konsep ide perusahaan.

Karena hanya percobaan, bentuk dan materinya pun tidak harus sempurna. Yang terpenting, fitur-fiturnya merepresentasikan fungsi dasar rancangan yang sudah ditentukan.

Misalnya, prototype tas dari kertas karton.

Jika produk berbentuk digital, seperti website, bisa juga dibuat pemodelannya. Caranya dengan membuat ‘mockup’.

Mockup adalah rancangan desain produk digital yang sudah dilengkapi dengan elemen, warna, tipografi, dan lainnya.

Nah, inilah yang perbedaan mockup dengan prototype. Lebih singkatnya, mockup itu lebih sederhana daripada prototype yang cukup interaktif.

Tapi baik prototype ataupun mockup sama-sama dapat memberikan gambaran nyata yang berhubungan dengan konsep produk yang ingin diwujudkan.

Dengan membuat prototype atau mockup, seluruh pihak yang terkait dalam pengembangan produk mampu memahami ide dengan lebih jelas.

5. Test

Fokus: Melakukan pengujian terhadap solusi yang dipilih.

Terakhir, sudah saatnya melakukan pengujian. Tujuan pengujian yaitu untuk mengetahui respons pengguna terhadap produk yang dibuat.

Tapi sebelum ke sana, prototype/mockup yang sudah dibuat harus dieksekusi ke dalam bentuk yang lebih nyata.

Bagaimana caranya? Mudah saja, silakan buatminimum viable product (MVP). MVP adalah produk dengan fitur dasar yang memiliki kegunaan tinggi, meski bentuknya belum terlalu kompleks.

Beda dengan prototype/mockup, produk MVP ini harus benar-benar diluncurkan ke calon pelanggan. Sehingga, kita bisa mendapatkan feedback real dari pelanggan untuk membuat produk final nantinya.

Nah meskipun ini adalah tahapan terakhir dari proses metode design thinking, bukan berarti semuanya sudah beres.

Ulangi kembali tahapan ini dari awal. Tujuannya adalah untuk melahirkan produk-produk yang lebih sempurna, memperbarui fitur tertentu, serta mengevaluasi fitur supaya berfungsi berjalan lebih baik.

Kesimpulan

Mengenal lebih dalam mengenai apa itu design thinking bukan hal yang merugikan. Ketika kita mengetahui metode tersebut, maka banyak manfaat yang kita dapatkan ketika melakukan launching produk.

Semoga bermanfaat, Goodluck!

Share ya!
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *