Search
Close this search box.
Share

5 Teknik Jitu Membuat Micro Content yang Terbukti Efektif

Farhan Anggara
Farhan Anggara
SEO Content Writer and Digital Marketer.
Membuat micro content

Perkembangan zaman membuat kita sebagai digital marketer berlomba-lomba membuat micro content sebagai strategi pemasaran.

Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk menggaet lebih banyak audiens.

Konsep konten mikro yang dianggap akurat untuk memfilter minat pengguna menjadikan aspek pemasaran sebagai prioritas.

Sayangnya, cara perusahaan menggunakan konten mikro dianggap tidak optimal, dalam arti penempatan dan bentuknya masih belum cukup baik.

Lalu, bagaimana tepatnya cara membuat micro content yang efektif untuk tujuan pemasaran?

Apa itu Micro Content?

Micro content adalah istilah yang belum dipahami secara luas atau digunakan oleh content creator.

Meskipun diterapkan, biasanya hanya untuk keperluan konten marketing di media sosial dan penggunaannya tidak terlalu efektif.

Faktanya, konten mikro adalah aspek terpenting dari pemasaran konten yang dilakukan oleh sebuah perusahaan.

Micro Content adalah jenis copywriting dalam bentuk fragmen atau frasa teks pendek, yang sering disajikan tanpa dukungan kontekstual tambahan.

Konten mikro biasanya berperan dalam mengkomunikasikan pesan utama dengan konten yang ringkas.

Aspek content marketing yang satu ini dapat digunakan sebagai bentuk ringkasan sebuah artikel dan posting blog yang panjang, serta menambahkan penjelasan ke desain interface.

Nah anggap saja seperti ini, konten mikro adalah epilog, atau sinopsis pendek dari sebuah cerita yang akan kamu tunjukkan di platform media sosial.

Dengan epilog, penonton biasanya mendapat gambaran tentang cerita yang akan ia rujuk. Konsep ini akan mendorong mereka untuk terus membaca cerita.

Peran konten mikro juga mirip dengan sinopsis dan epilog. Dia sering dianggap sebagai sarana untuk menarik minat audiens.

Baca Juga: Apa itu Copywriter? Inilah Tugas, Skill dan Besar Gajinya

Kenapa Harus Micro Content?

membuat micro content
Kenapa harus Content (Sumber: Freepik.com)

Siapa yang akan berpikir, bahwa sebagai aspek kecil dalam tujuan storytelling untuk pemasaran, peran micro content sangat penting.

Berikut ini adalah statistik yang menjelaskan rentang potensial platform micro content hanya dengan menganalisis jumlah penggunaan teknologi oleh orang-orang di dunia saat ini.

  • Ada lebih dari 50 miliar situs web yang tercantum di Google.
  • Ada lebih dari 1 miliar pengguna iPhone.
  • Menurut statistik, pengguna Facebook menyentuh 1,1 miliar pengguna

Statistik ini memberikan bukti nyata dari aktivis social media marketing tentang potensi micro content dalam menyampaikan pesan kepada orang-orang yang online dan terhubung dengan teknologi.

Micro content adalah aspek dari konten yang paling sering dikonsumsi oleh publik melalui layar ponsel mereka.

Saat ini, banyak orang akan menikmati konten mikro dari Tiktok dalam bentuk video, atau GIF dan utas pendek di Twitter.

Teknik Membuat Micro Content #1: Harus Singkat!

Saat membuat konten mikro, marketer perlu mengingat bahwa semakin pendek konten, semakin baik fungsinya untuk tujuan pemasaran.

Mungkin seorang marketer lain tidak akan menemukan masalah untuk tips ini ketika mereka memuat konten mikro di Twitter karena terbatasnya jumlah kata di sana.

Namun, masalah ini umumnya ditemukan dalam konten mikro yang dibuat di Facebook atau LinkedIn.

Tulisan yang lebih panjang cenderung sulit untuk menarik perhatian audiens karena konten tidak melibatkan kegiatan mereka.

Saat ini, audiens enggan membaca konten yang terlalu panjang dan jika informasi yang diberikan selesai, audiens merasa bahwa interaksi mereka tidak lagi diperlukan.

Oleh karena itu, konten mikro harus ringkas dan secara langsung menggambarkan detail konten utama yang akan diterbitkan.

Selain itu, masalah yang sering ditemukan adalah penggunaan tagar (hashtag) yang terlalu berlebihan.

Idealnya, pemasar harus mencoba mengurangi jumlah tagar supaya tidak lebih dari dua.

Intinya, apa yang diinginkan audiens adalah isi pos, bukan tagar perusahaan yang jelas ditujukan untuk tujuan pemasaran.

Teknik Membuat Micro Content #2: Mencoba Konten Jenaka

Setelah mengetahui bahwa pengguna media sosial diharuskan membuat konten mikro yang pendek, konten dalam bentuk gambar atau video terasa lebih efektif dalam menarik minat audiens.

Namun menurut Agorapulse, konten video atau gambar jenaka cenderung lebih populer di kalangan pengguna.

Oleh karena itu, bentuk konten mikro yang satu ini sangat hangat digunakan oleh perusahaan serta publik untuk promosi konten di media sosial.

Contohnya adalah video gif atau meme pendek yang merupakan prioritas marketer saat membuat konten mikro di Twitter atau IG Story.

Teknik Membuat Micro Content #3: Listicles

Jika marketer ingin membuat artikel, lebih baik jika konten penulisan yang mereka muat dalam bentuk listicles.

Selain itu, daftar yang dibuat juga tidak perlu terlalu detail, yang penting adalah pesan dalam artikel dapat dikemas dengan benar.

Marketer harus dapat menjelaskan lebih banyak poin yang beragam daripada kompetitor sehingga perusahaan dapat memajukan satu langkah di depan pesaing.

Dengan Listicles, promosi yang akan dibentuk di media sosial menjadi lebih ringkas dan lebih mudah karena poin penting dari konten lebih berurutan daripada artikel panjang.

Teknik Membuat Micro Content #4: Membuat Format Micro Content untuk Smartphone

Saat membuat micro content di media sosial, kadang-kadang marketer melupkan hal tentang sebagian besar penonton sekarang menikmati konten melalui smartphone.

Oleh karenanya, setelah konten mikro selesai, lebih baik jika konten tersebut diedit untuk menyesuaikan format konten untuk layar ponsel.

Meskipun tidak terlalu penting, efek format sebenarnya cukup besar perannya untuk pengalaman pengguna.

Teknik Membuat Micro Content #5: Infografis

Teknik terakhir untuk membuat micro content yang baik adalah mengubah gambar dan video biasa menjadi infografis.

Infografis saat ini mudah dicerna oleh audiens, terutama dengan tren visualisasi data yang sedang booming.

Yang pasti, infografis wajib dibuat seringkas mungkin dan menghindari penempatan warna yang terlalu mencolok.

Kesimpulan

Kamu pasti tahu bahwa pengguna internet tidak bisa kita hitung jumlahnya. Inilah yang menjadi alasan mengapa membuat konten untuk bisnis itu hal yang penting.

Coba bayangkan ketika kamu membuat konten di sosial media dan mendapat banyak engagement, itu pasti akan memengaruhi brand yang kamu kembangkan.

Nah salah satu konten yang bisa kamu gunakan untuk strategi marketing adalah mikro konten, seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Silahkamu kamu praktek dan membuktikan betapa efektifnya cara tersebut.

Semoga bermanfaat, Goodluck!

Share ya!
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *