Search
Close this search box.
Share

7 Perbedaan Digital dan Offline Marketing yang Harus Kamu Tahu!

Farhan Anggara
Farhan Anggara
SEO Content Writer and Digital Marketer.
perbedaan digital dan offline marketing

Digital marketing telah menjadi jurus jitu bagi perusahaan di Indonesia. Itulah mengapa banyak yang ingin tahu perbedaan digital dan offline marketing.

Mereka tampaknya mengubah kiblat pemasaran dari pemasaran offline menjadi digital. Baik pemasaran digital dan pemasaran offline, keduanya punya tujuan yaitu membuat konsumen untuk membeli produk.

Tapi sebenarnya masih ada perbedaan digital dan offline marketing yang wajib kamu ketahui jika kamu punya bisnis atau perusahaan.

Karena faktanya, digital marketing ini telah diterapkan sejak tahun 1992, di mana ada iklan (advertiser) dalam bentuk spanduk yang diinstal secara online.

Gagasan digital marketing mulai diperkenalkan di masyarakat umum yang lebih luas pada tahun 1990, diikuti oleh kelahiran e-commerce pertama, dan Yahoo pada tahun 1994.

Digital marketing sebenarnya telah lama ada, hanya saja baru diterapkan di Indonesia sejak 2018.

Tren digital marketing di Indonesia semakin meledak pada waktu itu berkat kemajuan perkembangan teknologi.

Belum lagi, sejumlah besar orang Indonesia yang menggunakan media sosial seperti Instagram dan Facebook membuat banyak bisnis memanfaatkan teknik digital marketing ini.

Terlepas dari popularitas strategi pemasaran ini, tapi masih ada banyak bisnis yang melakukan pemasaran secara offline.

Pertanyaannya adalah, apa perbedaan digital dan offline marketing dalam implementasinya? Mana yang lebih menguntungkan saat digunakan?

Artikel kali ini akan lebih membahas secara spesifik mengenai perbedaan digital dan offline marketing, silahkan kamu simak..

Indikator Perbedaan Digital dan Offline Marketing

Sekilas, perbedaan antara digital marketing dan offline marketing dapat dilihat pada jenis platform yang digunakan.

Kita bisa menyebut bahwa digital marketing dijalankan menggunakan media online seperti media sosial, berbeda dengan pemasaran offline yang menggunakan iklan di media massa cetak koran atau elektronik (televisi).

Sebenarnya, ada banyak perbedaan dari kedua hal tersebut terutama dalam implementasi dan hasil yang diperoleh.

Berikut ini adalah perbedaan mendasar dari dua jenis pemasaran yaitu digital marketing dan offline marketing.

1. Fokus atau Tujuan Utama Strategi

perbedaan digital dan offline marketing
Perbedaan Fokus dalam Metode Digital Marketing dan Offline Marketing (Sumber: Freepik.com)

Ketika melakukan pemasaran produk, digital marketing lebih fokus pada membuat konten yang akan diiklankan.

Sementara pemasaran offline memiliki fokus untuk memasarkan produknya dalam iklan mereka.

Di sisi lain, metode digital marketing lebih dikenal dengan metode soft selling, sementara pemasaran offline lebih memanfaatkan hard selling.

Fokus utama dari digital marketing disini adalah bagaimana caranya memanfaatkan platform online sebagai sarana promosi produk.

Platform yang bisa digunakan begitu beragam yaitu mulai dari sosial media, website, email, search engine, dan lainnya.

Tugas utama digital marketing adalah membuat konten iklan semenarik mungkin sehingga bisa menarik perhatian audiens melalui channel platform tadi.

Sementara untuk offline marketing lebih fokus pada produk dan layanan yang diberikan terhadap calon pelanggan. Pengiklan harus memasarkan secara langsung keuntungan dan manfaat dari produk.

Media yang digunakan pemasaran offline diantaranya adalah media cetak seperti koran, brosur, spanduk, lalu iklan elektronik yaitu iklan televisi.

Baca Juga: 5 Keuntungan Email Marketing

2. Media Pemasaran yang Digunakan

Seperti yang sudah sedikit dibahas di atas, perbedaan dari digital marketing dengan offline marketing adalah media pemasaran yang digunakan.

Seorang pemasar dapat memanfaatkan platform yang ada dalam memasarkan produk mau itu online atau offline.

Untuk digital marketing, media pemasaran yang dapat digunakan adalah website, email marketing, sosial media, search engine marketing, advertising, dan lainnya.

Tugas digital marketer adalah membuat sebuah konten yang mampu menarik perhatian audiens melalui media yang digunakan itu.

Sementara untuk offline marketing, karena dikenal sebagai metode hard selling, maka media yang bisa digunakan adalah media cetak koran, brosur, spanduk, banner dan iklan elektronik seperti radio atau televisi.

Ada juga strategi pemasaran yang memanfaatkan relasi atau testimoni pelanggan, yaiut dari mulut ke mulut seperti halnya seorang sales yang melakukan pemasaran secara langsung.

3. Media Komunikasi yang Digunakan

Rasanya tidak lengkap untuk memasarkan produk tanpa menyediakan saluran komunikasi untuk tetap terhubung dengan pelanggan potensial.

Digital marketing menggunakan saluran seperti email, aplikasi obrolan seperti Whatsapp atau Messenger, dan media sosial lain.

Pelanggan juga dapat menghubungi bisnis dengan lebih mudah, berkat tombol call to action (CTA) yang telah terhubung ke iklan.

Jika mereka tertarik pada produk yang terlihat dalam konten, mereka dapat langsung mengklik CTA dan mulai melakukan transaksi.

Pemasaran offline umumnya menggunakan personel seperti penjualan atau duta merek untuk berkomunikasi dengan pelanggan potensial.

Ada juga keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan tenaga penjualan untuk memasarkan produk, yaitu hubungan yang diciptakan antara pelanggan dan perusahaan.

Selain sales, konsumen dapat menghubungi bisnis melalui nomor telepon yang tersedia.

Seiring berkembangnya zaman, media komunikasi yang digunakan juga berubah, seperti menggunakan email dan sosial media.

Namun, masih ada banyak perusahaan yang mengambil keuntungan dari keunggulan tenaga penjualan sebagai media komunikasi offline mereka.

4. Target Audiens

Perbedaan keempat dapat dilihat di target pasar yang disasar. Tentu saja, algoritma dan perkembangan teknologi membuat strategi marketing yang digunakan secara langsung menargetkan target pasar yang sesuai dengan segmentasi.

Digital marketing mencapai target pasar yang berfokus sesuai dengan segmentasi. Setelah menentukan target pasar, konten dapat disebarkan ke target karena algoritma mesin pencari atau media sosial yang canggih.

Meskipun semua orang yang tidak sesuai target segmen pasar dapat melihat konten yang diterbitkan, yang penting setidaknya ada orang yang benar-benar sesuai dengan segmentasi pasar bisa melihat konten yang kita buat.

Berbeda dengan pemasaran offline yang target audiensnya tersebar di mana-mana. Semua orang dapat melihat iklan termasuk diluar dari target segmen pasar.

Iklan yang dijalankan atau didistribusikan secara online dapat menjangkau semua orang, tetapi mereka juga belum tentu tertarik untuk membeli produk.

5. Biaya yang Dikeluarkan

perbedaan digital dan offline marketing
Perbedaan Biaya Dalam Digital Marketing vs Offline Marketing

Masalah biaya atau cost selalu menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi marketing yang efisien.

Digital marketing telah terbukti efektif dalam biaya, karena kita dapat menempatkan iklan sesuai dengan anggaran yang dimiliki.

Atau istilahnya kita seperti berinvestasi dalam periklanan di media sosial, seperti Facebook atau Instagram menggunakan Facebook Ads Manager, juga dapat menggunakan media iklan lainnya, seperti iklan Google.

Sementara biaya iklan untuk pemasaran offline tidak kecil. Kita juga harus melakukan pembayaran penuh untuk menempatkan iklan di media offline, baik elektronik maupun cetak.

Biaya staf pencetakan dan penjualan tidak murah, tetapi itu adalah harga yang harus dibayar sehingga produk dapat tersebar di masyarakat yang lebih luas.

Meski begitu, pemasaran offline juga cukup efektif dalam menjangkau banyak audiens untuk tertarik pada produk yang kita miliki.

6. Jangkauan yang Didapatkan

Online marketing dapat menjangkau siapa pun tanpa hambatan, termasuk profesional dan pejabat penting di perusahaan lain.

Tidak mengherankan, pemasaran online digunakan sebagai strategi pemasaran untuk bisnis B2B, karena toko atau perusahaan lebih efektif dalam mensurvei pemasok mereka tentang kebutuhan mereka di internet.

Sebagai pebisnis, ada banyak hal yang mereka lakukan selain memikirkan strategi untuk meningkatkan angka penjualan.

Sementara pemasaran offline dapat mencapai masyarakat yang lebih luas, tetapi tidak harus mencapai pejabat di perusahaan.

Waktu mereka banyak dihabiskan di depan layar, jadi mereka juga mencari informasi untuk memajukan perusahaan mereka di internet.

7. Pembeli Potensial

Pemasaran offline lebih efektif dalam melihat calon pembeli yang benar-benar tertarik pada produk mereka.

Dengan menyebarkan materi iklan kepada orang-orang yang lewat, mereka dapat melihat apakah mereka adalah pelanggan potensial atau tidak. Jika ada pelanggan yang meminta produk lebih lanjut, itu tanda mereka adalah pembeli potensial untuk bisnis.

Pemasaran online yang berisi ribuan pesaing di dunia maya menyulitkan kita untuk melihat potensi konsumen dalam membeli produk yang dipasarkan.

Meskipun audiens menyukai konten yang kita buat, mereka tidak perlu membeli produk.

Antusiasme audiens terhadap produk dapat dilihat dari apakah mereka bertanya lebih banyak tentang produk yang ditawarkan, atau hanya berinteraksi dengan konten yang kita bagikan.

Kesimpulan

Dari kedua metode pemasaran ini, sebenarnya terdapat kekurang dan kelebihan masing-masing. Sehingga sah-sah saja menjalankan kedua metode sekaligus.

Jika berpatok pada perkembangan zaman dan teknologi, metode digital marketing dinilai lebih efektif.

Akan tetapi, dibutuhkan pehamanan mendalam supaya bisa menggapai target yang ditentukan.

Semoga bermanfaat, Goodluck!

Share ya!
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *